Kamis, 20 Januari 2011

Pemrograman Python, Quora

Saya sedang mempelajari pemrograman Python, sebuah bahasa script yang katanya sangat powerful teutama untuk pemrograman jaringan. Tertarik untuk mempelajari karena melihat demo keamanan komputer di STIKOM Balikpapan. Python memang bahasa script yang diakui di dunia keamanan komputer. Bahkan bahasa yang satu ini bisa untuk membuat eksploit. Bagusnya bahasa pemrograman yang satu ini, file instalasinya telah menyertakan sebuah IDE sederhana bernama IDLE. IDLE memiliki shell sehingga kita bisa langsung mengetest kode-kode yang kita tulis, baris per baris. Inilah yang disebut “interaktif” dalam pemrograman Python, terutama dari segi IDE nya.


Awalnya bermain-main dengan IDLE, kemudian ingin mencoba menjalankan Python melalui command prompt di Windows. Karena terlihat bahwa Python lebih cocok untuk membuat program consol yang tanpa GUI. Pada awalnya cukup bingung untuk mencari perintah atau kode yang mampu mengendalikan Python dari command prompt. Dimulailah usaha untuk mencari pengetahuan tersebut melalui internet. Hasil-hasil pengetahuan dari internet cukup memberi pengetahuan mengenai perintah apa yang dipakai di command prompt untuk menjalankan Python. Ternyata kita harus mensetting terlebih dahulu bagian Environment Variabel di Windows.


Dua bagian yang perlu di setting di bagian Environment Variabel adalah: PATH & PATHEXT . Setting untuk bagian PATH adalah sebagai berikut (ini merupakan contoh PATH di Windows 7 dengan Python versi 2.6):

%SystemRoot%\system32;%SystemRoot%;%SystemRoot%\System32\Wbem;%SYSTEMROOT%\System32\WindowsPowerShell\v1.0\;%PATH%;C:\Python26

Jadi kode yang perlu ditambahkan dari variabel yang telah ada adalah yang di cetak tebal, yaitu: \;%PATH%;C:\Python26 .

Sementara setting untuk di bagian PATHEXT adalah sebagai berikut:

.COM;.EXE;.BAT;.CMD;.VBS;.VBE;.JS;.JSE;.WSF;.WSH;.MSC;%PATHEXT%;.PY;.PYW

Jadi kode yang ditambahkan untuk Python di PATHEXT adalah yang dicetak tebal diatas, yaitu: ;%PATHEXT%;.PY;.PYW


Maksud untuk menambahkah kode di bagian PATH adalah agar kita bisa menjalankan Python shell di command prompt hanya dengan mengetikan kata : Python , dan kemudian menekan tombol ENTER. Kemudian maksud dari kita menambahkan kode dibagian PATHEXT adalah agar dapat mengeksekusi file script Python yang  berekstensi .py atau .pyw dari command prompt dengan mengetikan perintah seperti berikut:

D:\PythonScript>python latihan1.py

kemudian diakhiri dengan menekan tombol ENTER.


File script yang dibuat dari shell milik IDLE tidak dapat langsung dieksekusi menggunakan perintah di atas di command prompt. Ternyata hal ini dikarenakan ada header dan tanda >>> pada kode yang ditulis di IDLE. Contoh sederhana hasil code script dari IDLE:

Python 2.6.2 (r262:71605, Apr 14 2009, 22:40:02) [MSC v.1500 32 bit (Intel)] on win32
Type "copyright", "credits" or "license()" for more information.

    ****************************************************************
    Personal firewall software may warn about the connection IDLE
    makes to its subprocess using this computer's internal loopback
    interface.  This connection is not visible on any external
    interface and no data is sent to or received from the Internet.
    ****************************************************************
   
IDLE 2.6.2     
>>> print"Hello World"


Jadi semua header dan tanda >>> diatas perlu dihapus, hingga hanya menyisakan kode berikut ini:

print”Hello World”

kode yang ini barulah merupakan kode yang dapat dieksekusi melalui command prompt. Alasannya mungkin adalah dikarenakan header & tanda >>> ikut di baca & dicoba dieksekusi juga oleh interpreter Python & tidak dianggap sebagai comment. Karena apabila itu sebuah comment, maka harus ditambahkan tanda # sebelum kalimat nya. Cara mengeditnya dapat dilakukan dengan cara membuka lokasi penyimpanan file .py tersebut di harddisk menggunakan windows explorer. Kemudia klik kanan di file tersebut, dan dari menu yang muncul, pilihlah Edit With IDLE .

nanti window yang akan terbuka bukanlah shell Python lagi, namun merupakan bagian editor IDLE yang lebih mirip seperti Notepad. Saya masih mencari IDE yang dapat menulis kode python tanpa menyertakan header atau tanda >>> di file script nya, sehingga file script bisa langsung di eksekusi melalui command prompt.


Sementara untuk Quora, quora merupakan sebuah situs social network, yang mirip Twitter namun menawarkan cita rasa baru. Di sini tidak ada batasan 140 karakter. Di Quora kita tidak hanya dapat mem follow orang tapi juga bisa mem follow pertanyaan & diskusi. Kemarin sempat bingung karena untuk mendaftar Quora sepertinya dibatasi jumlah pesertanya. Namun sekarang saya sudah bisa mendaftar & menggunakan Quora. Ini alamat halaman Quora milik saya: http://www.quora.com/Steven-Nathaniel

Minggu, 09 Januari 2011

Blackberry Messenger, Java, Laptop, Android

Setelah lama nggak posting, sekarang kembali posting lagi. Banyak hal nih selama ini yang perlu di ulas. Semua itu hasil dari lihat-lihat milis, baca-baca artikel disitus web, bahkan hal yang baru adalah dengerin podcast. Jadi sekarang belajar IT nggak cuma lewat tulisan aja tapi pakai multimedia kayak file video & audio. Mau bahas soal java dulu ya. Wah di java nih banyak hal seru, contohnya: isu bahwa java bakalan mati. Ada isu soal ribut-ribut ORACLE dengan komunitas open source. Juga ada berita tentang perseteruan ORACLE dengan Google. Semua itu ada pembahasannya di milis JUG-Indonesia.

 

 

Kalau menurut ku, ini semua bisa menggoyang programer Java, terutama yang masih pemula. Kalau yg pemula kan baru aja belajar tuh, jadi masih mempertanyakan bagaimana masa depan bahasa pemrograman Java. Padahal semua bahasa pemrograman itu ada manfaatnya, kan semua itu adalah kode-kode untuk kita berkomunikasi dengan komputer, untuk kita memberikan perintah kepada komputer. Jadi biar bahasa pemrograman Java bakalan meredup popularitasnya, tapi bakalan ada aja jalan untuk membangun aplikasi dengan basis Java di Komputer.

 

 

Kan sama aja dengan bahasa-bahasa pemrograman yang lain, kan nggak semua bahasa-bahasa itu populer, tapi mereka tetap bisa jalan di komputer. Jadi yang lebih penting adalah mempelajari 1 bahasa pemrograman secara mendalam, dan membuat aplikasi sebanyak mungkin dengan menggunakan bahasa pemrograman itu. Kadang tuh ribut-ribut soal bahasa pemrograman, sebenarnya cuma karena vendor aja yang lagi berebut lahan bisnis. Jadi sebenarnya sebagai user produk IT kita nggak perlu mengkhawatirkan ribut-ribut mereka itu. Terus aja kita gunakan produk yang kita miliki.

 

 

Kan otak nya user nggak kayak otaknya para developer yg kerja di vendor-vendor IT, biasanya lama atau susah banget buat user memahami fitur-fitur yang ada di produk-produk vendor, apalagi untuk produk bahasa pemrograman seperti Java ini. Jadi mungkin aja fitur-fitur baru yang diributkan itu nanti nya malah jadi kurang dimanfaatkan di dunia nyata. Juga jangan terlalu percaya apa kata orang soal suatu produk IT, walaupun orang itu pakar dari sebuah perusahaan ternama. Karena bisa jadi perkataannya itu untuk menjatuhkan keunggulan produk dari perusahaan saingannya.

 

 

Yang kayak gini kayaknya nggak bakalan ada habis-habisnya di dunia IT ini. Yang kayaknya rame di penghujung tahun 2010 & di awal tahun 2011 adalah munculnya produk IT yang mungkin aja sebenarnya sama semuanya, tapi di jual dengan merek & bungkus yang berbeda. Nah contohnya nih teknologi Iphone & Ipad, semakin banyak aja vendor selain Apple yang menjual produk dengan teknologi serupa. Jadi curiga siapa tau ada pabrik yang memproduksi produk Iphone/Ipad tanpa merek, yang nanti nya bisa dikasih merek/bungkus yang berbeda-beda. Wah bakalan murah banget kalau kita bisa beli langsung dari pabrik yang memproduksi Iphone/Ipad tanpa merek itu.

 

 

Hal ini kan udah terjadi di industri Laptop, banyak merek-merek yang ternyata dibuat oleh pabrik yang sama, dengan basis hardware yang sama, tapi dijual dengan harga yang berbeda-beda. Contohnya terjadi di laptop yang di produksi oleh pabrik Compal & Clevo. Sampai Drivernya aja bisa sama. Hal ini sangat menguntungkan bagi pengguna Linux. Dikarenakan apabila sebuah distro atau versi Linux udah bisa jalan di laptop A maka berarti Linux itu bisa juga jalan di laptop-laptop lain yang memiliki basis hardware yang sama dengan laptop A, walaupun merek & type nya berbeda.

 

 

Jadi yang mau pakai Linux nggak usah khawatir kalau mau instal Linux di laptop yang merek & type nya berbeda-beda. Yang penting lihat tuh basis hardware/barebone & lihat juga siapa sebenarnya pabrik yang memproduksi laptop itu. Kalau soal Android, bagus lah ada operating system buat handphone yang open source. Semoga aja Google bisa mempertahankan sistem operasi ini agar bersifat Open Source, jangan sampai kayak Java yang sekarang dikelola  oleh ORACLE & akhirnya menimbulkan perseteruan dengan komunitas Open Source.

 

 

Kalau bersifat Open Source itu menurutku bagus, karena akan membuka sarana seluas-luasnya untuk berkreasi, juga ide kreatifnya nggak akan mati. Karena kalau misalnya android yang ada sekarang di blokir atau dihentikan produksinya, maka akan muncul android-android type lainnya, dan mungkin dengan bungkus yang berbeda.  Contohnya aja aplikasi Blackberry Messenger yang katanya akan di blokir oleh pemerintah Indo, kalau aplikasi BBM itu open source dan bisa diinstal dimana aja, dan bisa dioperasikan melalui jaringan internet mana aja, kan tentunya aplikasi BBM tidak akan pernah mati.

 

 

Sebuah aplikasi software, walau dikelola oleh vendor besar, bisa saja tidak dapat menghindari pemblokiran. Sebaiknya aplikasi populer, pengelolaan & pengembangannya diserahkan kepada komunitas, sehingga ada banyak cara untuk menjaga agar aplikasi itu bisa terus eksis.