Kamis, 01 September 2011

Ingin Rajin Menulis Di Blog

selama ini saya lebih sering mengupdate Twitter, makanya kalau kalian lihat widget Twitter yang terdapat di halaman blog ini selalu terupdate. namun kalau blog ini kemarin-kemarin jarang di update. maka saya berniat akan sering mengupdate blog ini, walaupun nanti nya isinya akan terasa lebih santai dan tidak formal lagi.

urutan penulisannya pun kemungkinan tidak akan berurutan lagi. jadi yah lebih sesuka hati gitu. tapi yang terpenting akan lebih sering diupdate. saya sekarang fokus untuk mempelajari tentang pemrograman Python. karena rasanya kurang sanggup kalau mempelajari terlalu banyak bahasa pemrograman. jadi lebih baik belajar 1 bahasa pemrgraman namun dieksplorasi secara mendalam.

Module Python

Setelah beberapa lama blog ini vakum, maka saat ini saya kembali lagi menulis di blog ini. saya menghadirkan beberapa source code yang berkaitan dengan pemrograman python dengan menggunakan module . ini lah beberapa source code itu:

https://gist.github.com/1185393

https://gist.github.com/1185404

https://gist.github.com/1185407


https://gist.github.com/1185412

https://gist.github.com/1185411


akhirnya saat ini saya tetapkan pendirian untuk mempelajari pemerograman Python saja. dikarenakan pentingnya maintenance source code untuk mengikuti perkembangan Operating System, Hardware, dan software yang berkaitan dengan aplikasi yang saya buat. termasuk berkaitan dengan perkembangan resources pemrograman Python itu sendiri.


Untuk Operating System, saya memilih Linux sebagai OS yang saya jadikan tempat untuk memperdalam pemrograman Python. karena Python sangat kompatibel dengan OS yang merupakan turunan dari UNIX.

Minggu, 27 Maret 2011

Opsi Komponen Python Class

Lagi utak-atik kode pemrograman Python, kali ini mengenai cara membuat tombol yang letaknya disebelah counter. Source code nya adalah sebagai berikut:

import Tkinter
root = Tkinter.Tk()
import Pmw
Pmw.initialise(root)

# membuat tombol bertuliskan kata Hello di sebelah kiri counter

counter8 = Pmw.Counter(labelpos = 'se', label_text = 'Hello', label_pyclass = Tkinter.Button) #labelpos untuk menentukan letak tombol dengan counter. ada pilihan e,w,s,n e(east) = kanan, w(west) = sebelah kiri, s(south) = bawah, n(north) = atas ; label_text merupakan tulisan diatas tombol ; label_pyclass = Tkinter.Button merupakan kode untuk membuat tombol yang akan muncul di sebelah counter.


counter8.pack(padx = 10, pady = 10)
#counter8.setentry()

root.mainloop()

Hal yang baru disini adalah “labelpos” yang ternyata variabel nya tidak hanya dipakai untuk menentukan posisi tombol dalam kasus ini saja, tapi juga dalam banyak kasus yang lain. Di kasus yang lain, ada yang huruf nya di tulis dalam huruf besar.


Berikut ini contoh source code yang lainnya:

import Tkinter
root = Tkinter.Tk()
import Pmw
Pmw.initialise(root)


# modifikasi kode dari kode counter8.py

counter9 = Pmw.Counter(hull_relief = 'raised', hull_borderwidth = 5, orient = 'vertical', datatype = 'time', increment = 60, labelpos = 'es', label_text = 'Hello', label_pyclass = Tkinter.Button)

counter9.setentry('00:00:00')
counter9.pack(padx = 10, pady = 10)
counter9.configure(downarrow_background = 'blue', uparrow_background = 'yellow', entry_background = 'pink')

root.mainloop()

Jumat, 25 Maret 2011

Merubah Warna Tanda Panah Pada Counter

Warna tanda panah pada counter dapat diubah dengan menerapkan kode di bawah ini:


import Tkinter
root = Tkinter.Tk()
import Pmw
Pmw.initialise(root)

counter5 = Pmw.Counter(increment=2)
counter5.pack(padx = 10, pady = 10)
counter5.setentry(50)
counter5.configure(downarrow_background = 'green', uparrow_background = 'red') # Berguna untuk mengubah warna anak panah ke atas menjadi warna merah, anak panah ke bawah menjadi warna hijau)

root.mainloop()




Screen Shoot kode diatas ketika dijalankan:


Component Option – The Hull

Berikut ini adalah contoh source code Python Megawidgets yang menerapkan komponen The Hull pada counter. Penerapannya membuat tampilan counter menjadi berbeda:


import Tkinter
root = Tkinter.Tk()
import Pmw
Pmw.initialise(root)

counter6 = Pmw.Counter(hull_relief = 'sunken', hull_borderwidth = 5, orient = 'vertical', datatype = 'time', increment = 60)
counter6.setentry('00:00:00')
counter6.pack(padx = 10, pady = 10)
counter6.configure(downarrow_background = 'blue', uparrow_background = 'yellow')

root.mainloop()





Screen shoot kode tersebut ketika di jalankan:

Selasa, 22 Maret 2011

Counter Orient Vertical – Python

Berikut ini kode Python untuk membuat letak tanda panah di counter menjadi vertikal :

import Tkinter
root = Tkinter.Tk()
import Pmw
Pmw.initialise(root)

counter3 = Pmw.Counter(orient = 'vertical', increment = 2) # orient berguna untuk menentukan format tanda panah, apakah vertical atau horizontal

counter3.pack(padx = 10, pady = 10)
counter3.setentry(50)

root.mainloop()

Screen shoot kode tersebut ketika di jalankan:

Time Counter – Python

Berikut ini kode pemrograman Python dengan memanfaatkan Python Megawidgets untuk membuat Time Counter:


root = Tkinter.Tk()
import Pmw
Pmw.initialise(root)

counter2 = Pmw.Counter(datatype = 'time', increment = 60)
counter2.configure(increment = 60*10) # Berguna untuk menambahan/mengurangi nilai menit sebanyak 10 menit
counter2.setentry('00:00:00')
counter2.pack(padx = 10, pady = 10)

root.mainloop()


Di bawah ini screen shoot tampilan GUI dari kode diatas setelah di eksekusi:

PostgreSQL dan pgAdmin 3

Saya saat ini sedang mempelajari tentang PostgeSQL, database server selain MySQL. Melihat dari alamat situsnya yg .org sepertinya mengesankan bahwa proyek database server yang ini tidak bersifat komersial seperti halnya situs MySQL yang berakhiran .com . Setelah saya amati lebih cermat, ternyata di PostgreSQL ini memang tidak ada download versi Enterprise yang sifatnya berbayar seperti di MySQL.

Sehingga menurut saya di PostgreSQL tidak ada fitur yang dihilangkan seperti halnya MySQL versi komunitas. Pernah juga baca-baca di Internet bahwa sebenarnya fitur-fitur di PostgreSQL ini lebih lengkap ketimbang MySQL. Kalau MySQL hanya menang di sisi kecepatannya saja. Sehingga saya lebih tertarik menggunakan PostgreSQL untuk disandingkan dengan kode-kode Python & C/C++ yang ingin saya pelajari.

Di situsnya pun dikatakan bahwa PostgreSQL ini memang cocok bila disandingkan dengan kode-kode pemrograman Python, C/C++ . Kemampuannya untuk diinstal di berbagai platform Operating System juga membuatnya cukup menarik. Di PostgreSQL juga terdapat User Interface untuk administrasi server seperti halnya di MySQL (yaitu SQLyog) . Jika di PostgreSQL, nama UI nya adalah pgAdmin 3.

Keberadaan pgAdmin 3 menurut saya membuat kita sebagai pengguna PostgreSQL bisa lebih mudah melakukan konfigurasi & administrasi server di Linux dengan tampilan berbasis GUI.

OpenOffice Macro


Saya mencoba untuk memasukan python sebagai kode pemrograman untuk 
Macro di OpenOffice, ternyata untuk bisa membuat/mengedit macro di 
OpenOffice ini diperlukan Java Runtime Environment. JRE ini tidak otomatis 
terinstal di Ubuntu 10.10 . Sehingga kita perlu mendownload & menginstal 
nya melalui Synaptic Package Manager.
  
Di internet dikatakan bahwa untuk dapat menampilkan pilihan JRE mana 
yang akan dipakai di OpenOffice 
( yaitu di bagian Tools → Options → OpenOffice.org → Java) 
maka kita perlu menginstal java package-common . Ternyata paket common 
ini sudah termasuk didalam package sun JRE yang independent. Jika 
menginstal package sun JRE yang independent, maka kita juga otomatis 
akan menginstal paket sun JRE yang dependent.
 Sehingga keseluruhan ukuran file yang akan didownload & diinstal adalah 
105 MB. Suatu ukuran yang cukup besar & lama jika didownload 
menggunakan telkom speedy, apalagi untuk akses ke server arsip ubuntu ID 
yang mungkin berada di luar negeri. Akhirnya saya tunda dulu kegiatan 
download & instal sun JRE, untuk sementara fokus mempelajari coding 
python tanpa perlu menyimpan data inputnya di file OpenOffice.

 

Minggu, 20 Maret 2011

Pelajaran Python Megawidgets – Membuat Counter


Setelah mencoba latihan Tkinter yang terdapat di buku John E. Grayson, yang judulnya Python and Tkinter Programming, yaitu aplikasi Calculator. Ternyata aplikasi ini menggunakan Python Megawidgets. Pada awalnya Python Megawidgets ini tidak langsung terinstal di Python 2.6 yang terdapat di OS Ubuntu 10.10 . Jadi mesti di instal dulu melalui synaptic package manager. Setelah terinstal ternyata ada bagian di latihan membuat aplikasi kalkulator itu yang belum lengkap. Oleh karena saya belum faham mengenai Python Megawidgets, jadinya aplikasi kalkulator itu belum dilengkapi baris-baris kode nya.


Saya tidak menginstal dokumentasi Python Megawidgets, karena saya lihat di situs web nya sudah ada dokumentasi nya. Jadi menurut saya, saya baca saja dokumentasi dari situs webnya ketimbang memenuhi hardisk saya dengan menginstal dokumentasi Python Megawidgets.


Mulailah saat ini proses saya dalam mempelajari/ memahami Python Megawidgets. Dokumentasi yang ada di situs web nya sudah saya copy paste ke OpenOffice Writer. Yang pertama saya coba adalah membuat counter.


Kode-kode inisialisasi Python Megawidgets yang harus ditulis dibagian awal/paling atas dari baris-baris kode Python Megawidgets ini adalah:


import Tkinter
root = Tkinter.Tk()
import Pmw
Pmw.initialise(root)
 

Sementara kode inti dari si Counter ini adalah:

counter1 = Pmw.Counter()
counter1.pack(padx = 10, pady = 10)
 

kalau kedua bagian kode diatas dijalankan melalui Terminal, maka tidak akan muncul 
jendela counter nya (soalnya cuma 2 bagian kode itu aja yg tertulis di dokumentasi 
Python Megawidgets) . Akhirnya coba nyari-nyari baris kode dari file latihan .py lainnya 
supaya si jendela counter bisa tetap tampil.
Kemudian ketemu baris kode ini:

root.mainloop()
 

maka baris kode nya yg lengkap adalah:

import Tkinter
root = Tkinter.Tk()
import Pmw
Pmw.initialise(root)
 
counter1 = Pmw.Counter()
counter1.pack(padx = 10, pady = 10)
root.mainloop()
 

Dan tampilan jendela counter nya adalah :
 

coba klik pada bagian tengah jendela itu, dan ketikan angka, misal nya 50, kemudian coba 
klik tanda panah sebelah kanan untuk menaikan nilainya menjadi 51, 52, 53, …..dst . 
Atau coba klik tanda panah disebelah kiri untuk menurunkan nilainya menjadi 
49, 48, 47,.....dst . Kemudian ada latihan selanjutnya, yaitu langsung menuliskan 
angka/nilai didalam counter itu melalui kode python. Jadi langsung kita tentukan nilai 
berapa yang langsung muncul di counter itu ketika counter itu di eksekusi. Baris kode yang
 perlu ditambahkan adalah:

counter1.setentry()
 

Untuk menambahkan nilainya, tinggal diisikan saja di dalam tanda kurung, contohnya jika 
ingin menaruh angka 50 sebagai angka awalnya maka baris kode nya menjadi:

counter1.setentry(50)
 
Baris kode lengkapnya adalah:
import Tkinter
  root = Tkinter.Tk()
  import Pmw
  Pmw.initialise(root)
  counter1 = Pmw.Counter()
  counter1.pack(padx = 10, pady = 10)
  counter1.setentry(50)
  root.mainloop()
cobalah eksekusi script python yang sudah di tambahkan kode itu.
Kemudian ada lagi variasi lainnya, bagaimana kalau angka yang muncul jika 
kita mengklik tanda panah adalah bertambah 2 angka atau berkurang sejumlah
 2 angka. Maka caranya adalah sebagai berikut:

 counter1 = Pmw.Counter(increment = 2)
maka setelah di tambahkan “increment =2” didalam tanda kurung diatas, jika 
kita mengklik tanda panah, maka angka yang muncul di counter akan di 
tambahkan 2 angka atau berkurang 2 angka. Contoh jika angka yg muncul 50,
 jika mengklik panah disebelah kanan maka akan muncul 52, 54, 56, 58,...dst .
 Jika mengklik panah disebelah kiri, maka angka akan berkurang sebanyak 
2 angka, yaitu 48, 46, 44, 42, ...dst.

Kode script lengkap nya adalah sebagai berikut:


 import Tkinter

 root = Tkinter.Tk()

 import Pmw

 Pmw.initialise(root)



 counter1 = Pmw.Counter(increment = 2)

 counter1.pack(padx = 10, pady = 10)

 counter1.setentry(50)



 root.mainloop()

Belajar Python 3


Pembelajaran pemrograman menggunakan bahasa Python 2.6 dan Ubuntu 10.10 masih berjalan dengan lancar. Tools yang digunakan adalah Gedit sebagai teks editor & Terminal untuk mengeksekusi file script dan mendebug kode-kode script tersebut. Untuk buku panduan belajar membuat GUI python menggunakan Tkinter saya membaca buku yg berjudul Python and Tkinter Programming yang ditulis oleh John E. Grayson . Juga terdapat contoh-contoh source code di buku tersebut, yang bisa didownload di Internet.


Saya mulai belajar membaca hasil debugging yang tampil di Terminal, mencoba memahami pesan Error yang muncul dan mencoba memperbaiki nya di source code. Untuk kemudian kembali mengeksekusinya melalui Terminal. Ternyata bahasa python ini juga bisa berkerjasama dengan bahasa C untuk menambah kemampuannya. Sehingga nanti jikalau saya ingin membuat aplikasi yang lebih besar atau memerlukan kemampuan yang lebih besar maka saya bisa menggabungkannya dengan C/C++ .

Jumat, 18 Maret 2011

Video di VLC Ubuntu 10.10


Belum juga berhasil menampilkan video di Linux Ubuntu 10.10 yg terinstal di Laptop Axioo alias Clevo. Padahal sudah download medibuntu repository, tapi belum juga berhasil menampilkan gambar video dilayar VLC player. Yang tampil cuma layar kosong berwarna hitam, padahal di bagian statistik nya sudah terlihat bahwa bahwa video nya sudah diproses dengan codec. 

Tampilan layar VLC media player yg hanya menampilkan layar gelap


Gambar statistik proses decoding file berformat .avi



Masih bingung saya bagian mana lagi yang perlu dirubah untuk bisa menampilkan gambar video di video player, semacam VLC. Maklum soalnya kan saya baru belajar menggunakan Linux Ubuntu. Jadi belum terlalu memahami sistem operasi ini & berbagai macam settingan aplikasinya.


Gambar hasil Snap Shoot menggunakan VLC Media Player
 
Berarti kan di balik layar berwarna hitam itu sebenarnya file videonya sudah dapat dimainkan, hanya saja mengapa tidak tampil gambar video nya di layar?

Selasa, 15 Maret 2011

Wget


Proses mendownload file di Ubuntu 10.10 menjadi sangat mudah dikarenakan adanya download manager bernama Wget. Wget dapat dijalankan melalui Terminal. Untuk mendownload file kita tinggal mengetikan perintah:

wget [URL file yang akan didownload]

kemudian menekan tombol Enter , maka proses download segera dimulai. Jika ingin melakukan Pause terhadap proses download yang sedang berlangsung, kita tinggal menekan tombol berikut ini secara bersamaan:

Ctrl + c

dan untuk melanjutkan proses download file yang telah di Pause, kita tinggal mengetikan perintah:

wget -c [URL file yang proses downloadnya di Pause]


maka wget akan melanjutkan proses download dari bagian terakhir file tersebut terdownload. Kecepatan transfer data yang terdapat di wget sangat lah cepat. Dibandingkan dengan software Flashget yang di jalankan di Windows, wget bisa mencapai kecepatan download yang lebih tinggi dibandingkan Flashget.

Sabtu, 12 Maret 2011

Python dan PDF di Linux


Setelah mencari-cari bahasa dan tools pemrograman apa yang sekiranya cocok dipakai untuk menulis kode program di Linux, akhirnya diputuskanlah untuk menggunakan Python, dengan IDLE sebagai IDE nya. Sebelumnya sempat melihat-lihat bahasa C++ dengan Geany & Anjuta sebagai IDE nya. Kemudian juga melihat-lihat bahasa C# dengan MonoDevelop sebagai IDE nya.


Juga sempat cari-cari referensi soal GTK, GTK+ , GTK#, dan QT untuk membuat GUI program aplikasi di Linux. Geany katanya sangat cocok untuk pemula yang mau belajar bahasa C/C++ . karena sangat ringan & sederhana programnya. Anjuta dinilai terlalu berlebihan sebagai IDE bagi pemula yang ingin belajar bahasa C/C++.


Sementara MonoDevelop katanya sangat bagus untuk membuat aplikasi berbasis C# . Namun sempat lihat situs resminya, katanya Linux Ubuntu belum didukung secara resmi oleh perusahaan pengembangnya, masih berupa dukungan komunitas untuk paket MonoDevelop yang tersedia bagi Linux Ubuntu. Distro linux yang didukung secara resmi oleh perusahaan pengembangnya adalah Linux Suse.



Saya tahu bahasa yang sepertinya native di Linux, ialah Bahasa C dan Python. Jadi ingin belajar kedua bahasa ini. Mudah-mudahan kalau bisa menguasai kedua bahasa ini, bisa membuat program mulai dari level Linux Desktop hingga Linux Server, dan mampu melakukan pemrograman Jaringan Linux.


Sempat juga terlihat Java telah tersedia di Ubuntu Software Center, untuk IDE nya tersedia Eclipse & Netbeans. Saya sangat berminat terhadap pemrograman OOP (Object Oriented Programming). Jadi untuk di Linux akan memilih bahasa C++ dan Python sebagai bahasa pemrograman yang dipakai.


Setelah melihat-lihat di forum-forum Linux dan mencoba mengeksplorasi Ubuntu Software Center dan Synaptic Package Manager. Saya melihat bahwa Interpreter Python versi 2.6 sudah terinstal di Ubuntu 10.10 . Kebetulan Python versi 2.6 ini juga saya instal di komputer yang menggunakan OS Windows, untuk belajar pemrograman Python di OS Windows.



Berarti menurut saya, hanya perlu menginstal IDLE (Python IDE) untuk melengkapi interpreter yang sudah duluan terinstal. Ternyata saya menemukan bahwa aplikasi teks editor, yaitu Gedit juga telah memiliki fitur Highlight Mode untuk bahasa Python. Kemudian Calculator di Ubuntu 10.10 ini juga telah memiliki Mode untuk pemrograman.


Jadi kesimpulan saya, Linux Ubuntu 10.10 ini memberikan dukungan yang lebih besar terhadap hobi pemrograman ketimbang OS Windows. Di Windows kita harus mendownload dan menginstal paket Python sendiri, kemudian Notepad bawaannya tidak mendukung fitur syntax highlight, Kalkulator nya juga tidak ada mode pemrogramannya.


Bahkan untuk bisa menjalankan Python melalui Command Prompt di Windows kita harus mengedit Variabel Enviroment dan Ext Environment terlebih dahulu. Sementara di Linux kita tidak perlu melakukan kedua hal itu, di Linux Ubuntu 10.10, kita cukup mengetikan kata python di terminal, dan otomatis, python shell pun langsung berjalan di terminal.


Saya lebih duluan belajar Python di Windows daripada di Linux. Dan hingga saat ini ternyata cara untuk melakukan pemrograman menggunakan bahasa Python baik di Windows maupun Linux tidak berbeda. Hal ini mempermudah kita yang sedang belajar, untuk coding dan menjalankan script yang kita buat baik di Windows maupun Linux. Dan ternyata script yang saya buat di Windows pun mampu di jalankan di Linux.


Saya sudah mencoba membuat GUI menggunakan Tkinter, ternyata dengan Tkinter kita bisa membuat GUI dengan python tanpa perlu menginstal program tambahan. Sebelumnya saya mengira harus belajar Gnome atau GTK dulu untuk membuat GUI program yg saya buat dengan bahasa Python di Linux Ubuntu 10.10 .


Sebelumnya juga sempat bingung bagaimana caranya menampilkan file berformat PDF di Ubuntu. Kalau di windows kan bisa menggunakan Adobe Reader atau Foxit Reader . Ternyata kalau di Ubuntu sudah terinstal software Document Viewer, sempat bingung karena Document Viewer nya tidak muncul di menu start Ubuntu. Ternyata kita bisa mengaksesnya dengan mengklik kanan di file PDF di Window Explorer nya Ubuntu. Saya mengetahui bahwa Document Viewer sudah terinstal, dengan melihat di Ubuntu Software Center.


Semakin asyik saja menggunakan Linux ini dan jadi semakin bertambah yakin bahwa Linux bisa menggantikan Windows yang selama ini saya pergunakan untuk melakukan pekerjaan dengan komputer setiap hari.

Rabu, 09 Maret 2011

Media Player Di Ubuntu 10.10


Hal pertama yang cukup membingungkan setelah penginstalan ubuntu adalah
media player yg tersedia di ubuntu. Tidak seperti di windows, yg setelah diinstal kita bisa langsung menikmati video atau musik dengan format yg didukung windows. Di laptop axioo saya, baik VLC maupun Movie Player hanya bisa menampilkan audio dari film tersebut, namun video nya tidak nampak. Hal ini lah yang masih saya cari pemecahan masalahnya.


Mau coba instal restricted package dari ubuntu. Jadi untuk sementara, menurut saya kalau untuk hiburan, sebaiknya menggunakan windows aja dulu. Sambil berusaha memahami Linux. Katanya hardware juga berpengaruh dalam hal ini. Karena Axioo memakai chipset Grafis dari Sis yg katanya agak rewel dengan urusan multimedia di Linux, juga chipset Via yg katanya ada juga bermasalah dengan Linux.


Apa mungkin karena laptop nya berharga murah ya, jadi cuma support Windows? Tapi saya nggak menyerah untuk belajar Linux. Masa sih hanya windows satu-satu nya operating system yang bisa melakukan segalanya di dunia ini?


Untuk masalah grafis itu, nanti saya akan mencoba komputer dengan motherboard yang memiliki chipset Intel. Semoga hasilnya akan berbeda.

Awal Berkenalan Dengan Linux


Setelah sekian lama ingin menginstal Linux, akhirnya terinstal juga nih Linux Ubuntu 10.10 di Laptop Axioo. Diambil tindakan radikal, dengan memformat keseluruhan hardisk yang sebelumnya didiami oleh Windows XP Professional yang original.


Karena bingung kalau mau instal Linux bersebelahan dengan Windows, lagipula hardisknya cuma 40 GB. Hebat nih sih Ubuntu Maverick, dari live cd yang dijalankan, dia bisa memformat keseluruhan hardisk yang berisi windows XP professional dan seluruh software dan driver-driver nya. Untuk kemudian menginstalkan dirinya diatas hardisk itu.


Sebelumnya saya belum pernah bisa menginstal sistem operasi sendiri. Dulu juga tidak bisa menginstal windows. Jadi linux ubuntu 10.10 ini merupakan sistem operasi pertama kali yang saya instal sendiri. Ternyata proses instalasi Linux ini sangatlah mudah. Si Linux bisa jalan sendiri, yang penting sudah dikoneksikan dengan internet.


Cuma yang agak mengesalkan adalah saat mendownload Language Package & Packages yang waktu download nya sangat lama, kecepatan downloadnya juga tidak menentu, seolah-olah proses downloadnya tanpa akhir.


Akhirnya karena khawatir tagihan Telkom Speedy membengkak maka saya matikan modem Speedy nya dan proses download package tidak sampai selesai. Akhirnya sepertinya si Ubuntu cuma menginstal package yg berhasil di download aja. Sampai disini cukup bingung juga dengan proses download saat menginstal itu, tidak pernah saya alami hal itu pada saat menginstal windows.

Jadi dalam anggapan saya yang masih awam soal Linux ini, file instalasi ubuntu sebesar 700 MB yg saya download dulu ternyata masih kurang untuk menginstal sebuah Ubuntu.

Sabtu, 12 Februari 2011

Convore, Pidgin, Koprol, Pemblokiran Internet, Nawala Project

Convore.com



Baru aja mencoba situs baru yang bernama Convore. Ternyata ini adalah sebuah situs yang baru saja didirikan, sebuah startup istilahnya. Convore memberikan layanan group chatting. Jadi awalnya kita seperti bisa membuat forum sendiri, jadi seperti kaskus.com . Namun disini kita bisa melihat siapa saja yang sedang online, dan sifat chattingnya adalah real time. Jikalau ada yg mengirimkan pesan maka akan ada suara notifikasi yang muncul. jika kita join dengan sebuah grup, kita juga bisa melihat jika ada orang yang memberikan komentar di thread grup tersebut.


Selama ini saya melihat belum ramai masyarakat Indonesia yang memanfaatkan layanan sosial media ini. Terlihat dari belum adanya grup atau diskusi-diskusi yang menggunakan bahasa Indonesia. padahal kalau sudah banyak orang Indonesia yang ikut memanfaatkan layanan sosial media ini, pasti situs convore akan ramai sekali. karena seperti diketahui, saat ini netter Indonesia sangat menonjol kiprahnya di situs-situs sosial media semacam Twitter, Facebook, Koprol . Selama ini yang saya lihat banyak berdiskusi di Convore adalah orang-orang yang berasal dari Eropa/Amerika Serikat. Mereka berdiskusi menggunakan bahasa Inggris.Saat ini kita pun bisa mudah untuk ikut berdiskusi dalam bahasa Inggris dengan menggunakan layanan Google Translate.


Pidgin


Untuk software Pidgin, ternyata software ini menurut saya memang sangat baik dalam mengelola berbagai account sosial media & chatting. dikarenakan software ini sangat sederhana & multiplatform. kesederhanaannya membuat software ini dapat bekerja dengan ringan di komputer yang memiliki spesifikasi rendah.

Koprol

Untuk Koprol, sepertinya situs ini mengadakan perubahan tampilan & mulai memberikan fitur-fitur baru. saya lihat juga perusahaan-perusahaan mulai membuat account & eksis di koprol.com . meskipun sudah diakuisisi oleh yahoo, terlihat situs sosial media ini masih banyak dimanfaatkan oleh warga Indonesia. Koprol merupakan aset penting Indonesia di bidang sosial media.


Pemblokiran Internet


Mulai lagi merebak pemblokiran internet, kali ini isu nya merebak dikarenakan demonstrasi di Mesir yang meminta presiden negara tersebut untuk mundur dari jabatannya. Seperti biasanya indonesia pun ikut-ikutan heboh. sepertinya internet ini memang canggih namun mudah sekali untuk dimatikan, jikalau pemerintahan suatu negara tidak setuju dengan isi dari siaran internet, maka dengan mudahnya jalur komunikasi ini dapat disensor atau diputus. Internet di zaman ini telah menjadi alat perjuangan rakyat untuk menyuarakan pemikiran & perasaan mereka.


Internet saat ini sudah bisa pula  dianggap mengancam keamanan suatu negara, dan bisa menggoyahkan kekuasaan politik tertentu. ternyata internet masih susah untuk di bangun oleh masyarakat jelata & bisa begitu mudahnya dikendalikan oleh pihak berkuasa. tapi mungkin di tahun-tahun yang akan datang, kita akan melihat lahirnya jaringan internet yang dibangun oleh rakyat jelata & akan sulit dimatikan oleh pihak berkuasa. Kejadian seperti di Mesir & sejumlah negara dimana jalur internet dimatikan atau dilarang sebagian isinya, kemungkinan akan mendorong elemen-elemen masyarakat tertentu untuk mulai membangun jaringan internet yang jauh dari jangkauan para penguasa.



Nawala Project

Saat ini saya lihat juga mulai tumbuh kesadaran perusahaan & institusi pendidikan untuk mulai memanfaatkan layanan Nawala Poject. sebuah perusahaan besar yang merelakan jaringan internetnya untuk difilter oleh Nawala Project adalah Research In Motion (RIM) melalui produk Blackberry nya. saya lihat kok ketakutan terhadap pornografi sepertinya sebegitu besarnya. hingga pornografi sepertinya menjadi musuh institusi di indonesia.

Kamis, 20 Januari 2011

Pemrograman Python, Quora

Saya sedang mempelajari pemrograman Python, sebuah bahasa script yang katanya sangat powerful teutama untuk pemrograman jaringan. Tertarik untuk mempelajari karena melihat demo keamanan komputer di STIKOM Balikpapan. Python memang bahasa script yang diakui di dunia keamanan komputer. Bahkan bahasa yang satu ini bisa untuk membuat eksploit. Bagusnya bahasa pemrograman yang satu ini, file instalasinya telah menyertakan sebuah IDE sederhana bernama IDLE. IDLE memiliki shell sehingga kita bisa langsung mengetest kode-kode yang kita tulis, baris per baris. Inilah yang disebut “interaktif” dalam pemrograman Python, terutama dari segi IDE nya.


Awalnya bermain-main dengan IDLE, kemudian ingin mencoba menjalankan Python melalui command prompt di Windows. Karena terlihat bahwa Python lebih cocok untuk membuat program consol yang tanpa GUI. Pada awalnya cukup bingung untuk mencari perintah atau kode yang mampu mengendalikan Python dari command prompt. Dimulailah usaha untuk mencari pengetahuan tersebut melalui internet. Hasil-hasil pengetahuan dari internet cukup memberi pengetahuan mengenai perintah apa yang dipakai di command prompt untuk menjalankan Python. Ternyata kita harus mensetting terlebih dahulu bagian Environment Variabel di Windows.


Dua bagian yang perlu di setting di bagian Environment Variabel adalah: PATH & PATHEXT . Setting untuk bagian PATH adalah sebagai berikut (ini merupakan contoh PATH di Windows 7 dengan Python versi 2.6):

%SystemRoot%\system32;%SystemRoot%;%SystemRoot%\System32\Wbem;%SYSTEMROOT%\System32\WindowsPowerShell\v1.0\;%PATH%;C:\Python26

Jadi kode yang perlu ditambahkan dari variabel yang telah ada adalah yang di cetak tebal, yaitu: \;%PATH%;C:\Python26 .

Sementara setting untuk di bagian PATHEXT adalah sebagai berikut:

.COM;.EXE;.BAT;.CMD;.VBS;.VBE;.JS;.JSE;.WSF;.WSH;.MSC;%PATHEXT%;.PY;.PYW

Jadi kode yang ditambahkan untuk Python di PATHEXT adalah yang dicetak tebal diatas, yaitu: ;%PATHEXT%;.PY;.PYW


Maksud untuk menambahkah kode di bagian PATH adalah agar kita bisa menjalankan Python shell di command prompt hanya dengan mengetikan kata : Python , dan kemudian menekan tombol ENTER. Kemudian maksud dari kita menambahkan kode dibagian PATHEXT adalah agar dapat mengeksekusi file script Python yang  berekstensi .py atau .pyw dari command prompt dengan mengetikan perintah seperti berikut:

D:\PythonScript>python latihan1.py

kemudian diakhiri dengan menekan tombol ENTER.


File script yang dibuat dari shell milik IDLE tidak dapat langsung dieksekusi menggunakan perintah di atas di command prompt. Ternyata hal ini dikarenakan ada header dan tanda >>> pada kode yang ditulis di IDLE. Contoh sederhana hasil code script dari IDLE:

Python 2.6.2 (r262:71605, Apr 14 2009, 22:40:02) [MSC v.1500 32 bit (Intel)] on win32
Type "copyright", "credits" or "license()" for more information.

    ****************************************************************
    Personal firewall software may warn about the connection IDLE
    makes to its subprocess using this computer's internal loopback
    interface.  This connection is not visible on any external
    interface and no data is sent to or received from the Internet.
    ****************************************************************
   
IDLE 2.6.2     
>>> print"Hello World"


Jadi semua header dan tanda >>> diatas perlu dihapus, hingga hanya menyisakan kode berikut ini:

print”Hello World”

kode yang ini barulah merupakan kode yang dapat dieksekusi melalui command prompt. Alasannya mungkin adalah dikarenakan header & tanda >>> ikut di baca & dicoba dieksekusi juga oleh interpreter Python & tidak dianggap sebagai comment. Karena apabila itu sebuah comment, maka harus ditambahkan tanda # sebelum kalimat nya. Cara mengeditnya dapat dilakukan dengan cara membuka lokasi penyimpanan file .py tersebut di harddisk menggunakan windows explorer. Kemudia klik kanan di file tersebut, dan dari menu yang muncul, pilihlah Edit With IDLE .

nanti window yang akan terbuka bukanlah shell Python lagi, namun merupakan bagian editor IDLE yang lebih mirip seperti Notepad. Saya masih mencari IDE yang dapat menulis kode python tanpa menyertakan header atau tanda >>> di file script nya, sehingga file script bisa langsung di eksekusi melalui command prompt.


Sementara untuk Quora, quora merupakan sebuah situs social network, yang mirip Twitter namun menawarkan cita rasa baru. Di sini tidak ada batasan 140 karakter. Di Quora kita tidak hanya dapat mem follow orang tapi juga bisa mem follow pertanyaan & diskusi. Kemarin sempat bingung karena untuk mendaftar Quora sepertinya dibatasi jumlah pesertanya. Namun sekarang saya sudah bisa mendaftar & menggunakan Quora. Ini alamat halaman Quora milik saya: http://www.quora.com/Steven-Nathaniel

Minggu, 09 Januari 2011

Blackberry Messenger, Java, Laptop, Android

Setelah lama nggak posting, sekarang kembali posting lagi. Banyak hal nih selama ini yang perlu di ulas. Semua itu hasil dari lihat-lihat milis, baca-baca artikel disitus web, bahkan hal yang baru adalah dengerin podcast. Jadi sekarang belajar IT nggak cuma lewat tulisan aja tapi pakai multimedia kayak file video & audio. Mau bahas soal java dulu ya. Wah di java nih banyak hal seru, contohnya: isu bahwa java bakalan mati. Ada isu soal ribut-ribut ORACLE dengan komunitas open source. Juga ada berita tentang perseteruan ORACLE dengan Google. Semua itu ada pembahasannya di milis JUG-Indonesia.

 

 

Kalau menurut ku, ini semua bisa menggoyang programer Java, terutama yang masih pemula. Kalau yg pemula kan baru aja belajar tuh, jadi masih mempertanyakan bagaimana masa depan bahasa pemrograman Java. Padahal semua bahasa pemrograman itu ada manfaatnya, kan semua itu adalah kode-kode untuk kita berkomunikasi dengan komputer, untuk kita memberikan perintah kepada komputer. Jadi biar bahasa pemrograman Java bakalan meredup popularitasnya, tapi bakalan ada aja jalan untuk membangun aplikasi dengan basis Java di Komputer.

 

 

Kan sama aja dengan bahasa-bahasa pemrograman yang lain, kan nggak semua bahasa-bahasa itu populer, tapi mereka tetap bisa jalan di komputer. Jadi yang lebih penting adalah mempelajari 1 bahasa pemrograman secara mendalam, dan membuat aplikasi sebanyak mungkin dengan menggunakan bahasa pemrograman itu. Kadang tuh ribut-ribut soal bahasa pemrograman, sebenarnya cuma karena vendor aja yang lagi berebut lahan bisnis. Jadi sebenarnya sebagai user produk IT kita nggak perlu mengkhawatirkan ribut-ribut mereka itu. Terus aja kita gunakan produk yang kita miliki.

 

 

Kan otak nya user nggak kayak otaknya para developer yg kerja di vendor-vendor IT, biasanya lama atau susah banget buat user memahami fitur-fitur yang ada di produk-produk vendor, apalagi untuk produk bahasa pemrograman seperti Java ini. Jadi mungkin aja fitur-fitur baru yang diributkan itu nanti nya malah jadi kurang dimanfaatkan di dunia nyata. Juga jangan terlalu percaya apa kata orang soal suatu produk IT, walaupun orang itu pakar dari sebuah perusahaan ternama. Karena bisa jadi perkataannya itu untuk menjatuhkan keunggulan produk dari perusahaan saingannya.

 

 

Yang kayak gini kayaknya nggak bakalan ada habis-habisnya di dunia IT ini. Yang kayaknya rame di penghujung tahun 2010 & di awal tahun 2011 adalah munculnya produk IT yang mungkin aja sebenarnya sama semuanya, tapi di jual dengan merek & bungkus yang berbeda. Nah contohnya nih teknologi Iphone & Ipad, semakin banyak aja vendor selain Apple yang menjual produk dengan teknologi serupa. Jadi curiga siapa tau ada pabrik yang memproduksi produk Iphone/Ipad tanpa merek, yang nanti nya bisa dikasih merek/bungkus yang berbeda-beda. Wah bakalan murah banget kalau kita bisa beli langsung dari pabrik yang memproduksi Iphone/Ipad tanpa merek itu.

 

 

Hal ini kan udah terjadi di industri Laptop, banyak merek-merek yang ternyata dibuat oleh pabrik yang sama, dengan basis hardware yang sama, tapi dijual dengan harga yang berbeda-beda. Contohnya terjadi di laptop yang di produksi oleh pabrik Compal & Clevo. Sampai Drivernya aja bisa sama. Hal ini sangat menguntungkan bagi pengguna Linux. Dikarenakan apabila sebuah distro atau versi Linux udah bisa jalan di laptop A maka berarti Linux itu bisa juga jalan di laptop-laptop lain yang memiliki basis hardware yang sama dengan laptop A, walaupun merek & type nya berbeda.

 

 

Jadi yang mau pakai Linux nggak usah khawatir kalau mau instal Linux di laptop yang merek & type nya berbeda-beda. Yang penting lihat tuh basis hardware/barebone & lihat juga siapa sebenarnya pabrik yang memproduksi laptop itu. Kalau soal Android, bagus lah ada operating system buat handphone yang open source. Semoga aja Google bisa mempertahankan sistem operasi ini agar bersifat Open Source, jangan sampai kayak Java yang sekarang dikelola  oleh ORACLE & akhirnya menimbulkan perseteruan dengan komunitas Open Source.

 

 

Kalau bersifat Open Source itu menurutku bagus, karena akan membuka sarana seluas-luasnya untuk berkreasi, juga ide kreatifnya nggak akan mati. Karena kalau misalnya android yang ada sekarang di blokir atau dihentikan produksinya, maka akan muncul android-android type lainnya, dan mungkin dengan bungkus yang berbeda.  Contohnya aja aplikasi Blackberry Messenger yang katanya akan di blokir oleh pemerintah Indo, kalau aplikasi BBM itu open source dan bisa diinstal dimana aja, dan bisa dioperasikan melalui jaringan internet mana aja, kan tentunya aplikasi BBM tidak akan pernah mati.

 

 

Sebuah aplikasi software, walau dikelola oleh vendor besar, bisa saja tidak dapat menghindari pemblokiran. Sebaiknya aplikasi populer, pengelolaan & pengembangannya diserahkan kepada komunitas, sehingga ada banyak cara untuk menjaga agar aplikasi itu bisa terus eksis.