Minggu, 13 Desember 2009

Google Real Time Search, Psikoanalisa untuk Twitter

Google baru beberapa hari yang lalu meluncurkan fitur Google Real Time Search dengan menggandeng penyedia layanan microbloging yaitu Twitter. Jadi sekarang hasil pencarian di Google bisa diupdate setiap menit, dengan update terbaru yang berasal dari tweet di Twitter. Memang ternyata update yang terjadi di Twitter melebihi kecepatan update yang dilakukan oleh situs-situs web di Internet.



Ini juga membuka peluang bagi para member Twitter untuk dikenal secara internasional, bukan hanya di lingkungan Twitter sendiri. Karena kini tweet-tweet yang berada di Twitter dapat dibaca bukan hanya oleh member  twitter namun juga oleh mereka yang bukan merupakan member Twitter. Fenomena ini membuka peluang baru baik bagi Twitter maupun membernya.



Dari sisi Twitter, tentu saja akan lebih memperkuat merek Twitter di kalangan pengguna internet, karena update dari situsnya melebihi kecepatan update dari situs-situs web lain. Tentu saja update dari Twitter ini akan menggeser kedudukan hasil pencarian dari web lainnya di halaman Google.


Bagi pengguna Twitter, tentu saja hal ini akan memperkuat personal branding mereka. Sebelumnya salah satu cara yang populer untuk membangun  personal branding adalah melalui blog. Di blog cukup terasa lebih sulit, karena untuk membangun sebuah artikel kita memerlukan riset & pemikiran yang agak mendalam. Sehingga update tidak bisa dilakukan dalam frekwensi waktu hanya beberapa menit. Belum lagi masalah Search Engine Optimization, kita harus bersaing dengan blog & situs web lainnya untuk dapat berada di posisi halaman pertama Google Search.



Sementara kalau di Twitter, urutan kemunculan tweet kita di halaman hasil pencarian Google di tentukan oleh waktu kita memposting tweet itu. Mungkin suatu saat akan muncul juga ilmu SEO untuk Twitter. Akan muncul persaingan diantara para member Twitter untuk menjadikan tweetnya sebagai tweet yang paling dicari di Google. Kemungkinan akan muncul guidance/petunjuk tentang hal ini di situs-situs SEO.



Dari hasil browsing kemarin saya menemukan sebuah kajian baru di disiplin ilmu kejiwaan. Saya menemukan sebuah artikel di Internet yang membahas tentang penerapan ilmu Psikoanalisa dalam mengkaji tweet-tweet yang ada di Twitter. Kalau sebelumnya Psikoanalisa sudah lazim digunakan untuk mengkaji teks karya sastra semacam novel, puisi, drama. Maka sekarang terbuka peluang untuk mengkaji makna yang tersembunyi di balik tweet-tweet.



Terbuka peluang bagi kita untuk mempelajari alam bawah sadar para pengguna Twitter dengan mempelajari tweet-tweet mereka menggunakan ilmu Psikoanalisa. Katanya penerapan ilmu Psikoanalisa ini akan efektif pada tweet-tweet yang berupa dialog. Memang sebagai kajian yang baru saja muncul, sepertinya kajian ini akan banyak menimbulkan pertentangan & keraguan. Seperti bagaimana Sigmund Freud dulu pertama kali merintis teori-teori Psikoanalisa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan mengisikan komentar apa aja, bebas aja, disini tempatnya ngomong bebas