Minggu, 12 Juli 2009

Debat...Debat...Debat

Membaca berita di situs Detikinet minggu kemarin, terlihat banyak sekali perdebatan. Mulai dari perdebatan antara pemerintah Indonesia dengan RIM, mengenai layanan purna jual perangkat Blackberry di Indonesia. Google yang akan meluncurkan sistem operasi yang diberi nama Chrome, yang diperkirakan akan berusaha menggerogoti market share produk Windows buatan Microsoft.



Sangat disayangkan produk Blackberry yang baru saja dipasarkan di Indonesia harus mengalami larangan impor dikarenakan lambatnya usaha RIM untuk membangun autorized service center dan kantor perwakilan untuk melayani berbagai keperluan konsumen berkaitan dengan produk Blackberry yang digunakan oleh masyarakat Indonesia. Baik itu untuk perangkat Blackberry yang di beli dari operator selular yang bermitra resmi dengan RIM, maupun yang dibeli di toko-toko handphone di pusat-pusat perbelanjaan.


Nampaknya kebiasaan masyarakat Indonesia yang lebih cenderung untuk membeli peralatan komputer dan telekomunikasi berdasarkan pada harga yang murah dan merek yang terkenal, dengan kurang memperhatikan apakah barang yang dibeli itu mendapatkan pelayanan dan perlindungan resmi dari vendor pembuat software atau hardware tersebut, juga merupakan pemicu dari perdebatan ini, disamping juga kurang terasanya respon dari RIM terhadap kecenderungan konsumen Indonesia ini.


Masyarakat Indonesia memiliki kebiasaan mencari barang yang bermerek terkenal dan memiliki populartitas tertinggi di pasaran dengan harga yang semurah-murahnya. Sehingga kalau ada penjual yang menawarkan harga lebih murah tentu saja mereka akan beralih ke penjual yang menawarkan harga lebih murah, operator selular Indonesia, yang menjual perangkat Blackberry secara resmi, kalah bersaing dalam hal ini.

Sepertinya Nokia & Sony Ericsson menerapkan strategi yang lebih tepat, mereka memboleh kan pedagang mana saja menjual produk mereka, dan autorized service center mereka akan tetap melayani perbaikan perangkat telekomunikasi produksi mereka, dari manapun barang itu dibeli, palingan prosedurnya adalah produk itu bergaransi resmi Indonesia.


Seharusnya RIM menjual secara bebas juga perangkat telekomunikasinya, dan hanya menerapkan persyaratan bahwa produk yang mendapat layanan di autorized service center adalah produk yang beragaransi resmi Indonesia, darimanapun produk itu dibeli, walaupun bukan dari operator yang merupakan mitra resmi, tetap akan dilayani di autorized service center.


RIM tidak boleh takut harga perangkatnya terombang-ambing, naik turun dikarenakan kekuatan pasar Indonesia, apabila produk resmi nya di jual ke pasaran bebas indonesia. Hal ini terbukti pada perangkat telekomunikasi keluaran vendor lainnya yang tetap eksis di pasaran Indonesia. Dikhawatirkan RIM akan kalah dipasaran perangkat telekomunikasi Indonesia dikarenakan kegagalan menerapkan strategi bisnis.


Mampukah RIM menaklukan pasar Indonesia dan merebut market share vendor telekomunikasi lain yang sudah terbukti tahan banting di pasaran Indonesia? Kalau untuk heart share RIM memang telah berhasil menjadi trend setter yang membuat vendor lain sampai meniru bentuk produknya, untuk produk yang dipasarkan di Indonesia. Perdebatan masih terus berlanjut.


Google Chrome OS


Satu lagi perusahaan yang berusaha melawan pemimpin pasar, yaitu Google yang berusaha mengalahkan Microsoft. Berita-berita di Internet mengatakan bahwa terjadi persaingan antara Google & Microsoft. Microsoft berusaha mengalahkan search engine Google dengan meluncurkan Bing. Di ranah browser, Browser Google Chrome juga berusaha menyaingi Internet Explorer. Dan kini Google berusaha menyaingi operating system buatan Microsoft yaitu Windows dengan berencana akan memproduksi Google Chrome OS. Sebelumnya Google juga berusaha menyaingi Windows Mobile dengan memproduksi Android.


Memang sudah lama terjadi pertempuran wacana diantara kelompok proprietary software dengan kelompok open source software. Keduanya mengklaim sebagai dirinya yang terbaik. Apakah ini ujung-ujungnya hanya untuk kedigjayaan bisnis semata? Bagi saya software proprietary maupun open source hanya alat/tools untuk mempermudah pekerjaan komputasi kita, sehingga kita pakai aja keduanya, yang perting urusan kita bisa terlaksana dengan baik.

Saling hujat antara para pemimpin perusahaan atau komunitas pembuat software & hardware terus saja berlangsung di dunia maya. Usaha bajak membajak software pun terus berlangsung. Google menggunakan kernel Linux untuk sistem operasi baru nya. Di internet ramai diberitakan bahwa Linux masih kalah dalam hal market share jika dibandingkan dengan Microsoft. Masyarakat dunia masih lebih banyak membeli Windows untuk komputer yang mereka beli, entah itu software Windows resmi maupun bajakan.


Google mencoba mengubah pandangan masyarakat terhadap Linux. Google berencana menghasilkan sebuah operating system yang aplikasinya familiar dengan pengguna, mudah dalam proses instalasi, dan yang terpenting kompatibilitas dengan berbagai hardware. Hardware sering kali menjadi kendala di Linux, yang banyak dibicarakan dalam forum-forum di Internet. Dimana tidak semua distro atau distribusi Linux bisa langsung cocok & berjalan berbarengan dengan baik antara software dengan hardware. Google telah mengadakan pembicaraan dengan beberapa perusahaan pembuat netbook untuk menjaga kompatibilitas operating system Chrome dengan netbook yang beredar di pasaran.


Chrome akan difokuskan pada operating system untuk netbook. Netbook telah menjadi trend di dunia sebagai perangkat untuk menjelajah dunia maya. Operating system Chrome akan mengandalkan aplikasi berbasis web, yang tentu saja aplikasinya adalah buatan Google atau berafiliasi dengan Google. Tampaknya Google ingin mewujudkan idenya mengenai cloud computing.


Dengan cloud computing, data-data yang dibuat melalui web base application akan disimpan di pusat-pusat data, di server-server berskala besar, sehingga data tidak disimpan di hardisk komputer milik pengguna. Cara menyimpan data seperti ini menurut Google lebih aman, karena data akan tersebar di dalam jaringan global internet. Dan data tersebut dapat diakses oleh si pengguna/pemilik data dari daerah manapun, dan dari peralatan komputer apapun di seluruh dunia, melalui jaringan Internet.


Namun celah keamanan masih bisa timbul, dikarenakan data-data tersebut di taruh di server yang tidak dapat dijangkau secara fisik oleh si pemilik data, maka ada kemungkinan data tersebut dapat dilihat oleh orang lain yang memiliki akses ke server tersebut. Jadi seperti kita menyimpan uang di bank, memang lebih aman daripada menyimpan uang di bawah kasur. Namun uang di bank masih juga bisa dibobol misalnya melalui carding (penipuan kartu kredit), pembobolan melalui ATM, pengambilan secara sedikit-demi sedikit uang nasabah yang tersimpan di rekening bank melalui jaringan komputer.


Dengan cloud computing, dikatakan bahwa user tidak perlu repot melakukan backup terhadap data yang dimilikinya. Apakah Google yang akan bertanggungjawab melakukan backup terhadap data yang disimpan oleh user melalui Google Chrome OS atau layanan web yg mereka sediakan??? Apakah kemungkinan akan ada lembaga penjaminan data elektronik, yang akan bertanggungjawab terhadap segala kerugian yang disebabkan oleh kerusakan data elektronik yang disimpan di server Google???


Karena bukan tidak mungkin kasus yang terjadi di dunia perbankan terjadi pula pada Google. Seperti pada masa krisis ekonomi, banyak perbankan yang mengalami kesulitan likuiditas, maka muncullah lembaga penjaminan perbankan, yang berfungsi menjamin dana nasabah yang disimpan di bank-bank. Atau ada juga lembaga-lembaga asuransi yang bekerjasama dengan bank untuk melakukan pembayaran jikalau bank mengalami gagal bayar.


Nah bagaimana kalau data-data user yang disimpan di server-server yang dikelola oleh Google mengalami corrupt atau mengalami cyber attack sehingga data user hilang atau rusak??? Apakah Google akan bertanggungjawab terhadap hal ini??? Dan bagaimana mekanisme penjaminan dan pemulihannya bila terjadi bencana seperti itu??? Bukan tidak mungkin Google akan mengalami tuntutan hukum dari para user disebabkan kerugian yang diderita akibat dari hilang atau rusaknya data elektronik para user.


Bagi para pelaku Teknologi Informasi di Indonesia tentu saja kehadiran Google Chrome OS ini bisa mendatangkan keuntungan dari sisi bisnis. Keuntungan tersebut terutama dirasakan oleh perusahaan-perusahaan penyedia jasa layanan internet (ISP). Karena sebagian besar aplikasi Google Chrome OS akan bersifat web base, yang tentu saja membutuhkan koneksi internet selama software tersebut sedang digunakan. Maka lalu lintas data yang melalui jaringan perusahaan ISP akan meningkat. Koneksi internet tidak boleh lagi putus nyambung, atau terhenti dikarenakan alasan jaringan sedang kelebihan beban. Kalau sampai koneksi internet putus nyambung atau terhenti dikarenakan jaringan kelebihan beban maka tentu saja Google Chrome OS & aplikasinya tidak dapat berfungsi secara maksimal.


Saya perkirakan Google Chrome OS akan menyedot banyak bandwith pada saat dioperasikan, dan hal ini akan mendorong semakin berkembangnya bisnis Broadband Internet Access di Indonesia. Sebaliknya ketidaksiapan ISP di Indonesia dalam hal kualitas jaringan akan menghambat penetrasi pasar Google Chrome OS di Indonesia. Terbuka juga peluang bagi perusahaan ISP di Indonesia untuk menjual produk bundling, yang berupa 1 paket produk yang terdiri atas: netbook + Google Chrome OS + modem (cable/wireless) + layanan akses Internet Broadband dari ISP.


Untuk masalah bandwidth juga perlu dipikirkan, apakah akses data ke server Google nanti akan berupa akses internet ke luar negeri. Karena apabila server Google yang diperuntukan bagi pengguna Google Chrome OS di indonesia, berada di negara yang lokasinya jauh dari indonesia, atau jauh secara jaringan dari Indonesia, maka bisa jadi bandwith jaringan internet Indonesia akan lebih cepat habis. Sebaiknya Google membangun sebuah server di Indonesia yang terhubung ke jaringan lokal Indonesia untuk melayani lalu lintas data para pengguna Google Chrome OS di Indonesia.


Peran serta para penggiat open source, yang selama ini setia membela mati-matian produk open source di dunia maya, juga sangat diperlukan bagi perkembangan & penyerapan Google Chrome OS, yang menggunakan basis kernel linux dan rencananya akan didistribusikan secara gratis. Mungkin nanti akan muncul komunitas, seminar, pelatihan, mailing list yang khusus membahas mengenai Google Chrome OS.



Referensi:

1. Google CEO says will discuss Apple board role



2. Google FAQ Reveals Chrome OS Hardware Partners



3. Sun Valley: Schmidt Didn’t Want to Build Chrome Initially, He Says



4. Google Strikes Back


5. No One Wants Linux Netbooks. Can Google Do Better?


6. Google takes aim at Microsoft with new PC platform


7. Google Windows? Chrome Operating System
Google Says its Challenger to Microsoft Windows Will be Simple, Aimed at Netbooks



8. Five Things Google’s Chrome OS Will Do for Your Netbook

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan mengisikan komentar apa aja, bebas aja, disini tempatnya ngomong bebas