Jumat, 26 Juni 2009

Cyberpsychology : Sebuah Pekenalan

Pada saat membuka-buka halaman web, ketika sedang mencari petunjuk penerapan ilmu psikologi dalam mempopulerkan blog di dunia maya, saya menemukan sebuah disiplin ilmu psikologi yang dikenal dengan nama cyberpsychology.



Akhirnya saya pun tertarik untuk mengetahui lebih mendalam mengenai cyberpsychology dengan jalan mengumpulkan artikel-artikel mengenai cyberpsychology. Dan saya memutuskan untuk membagi apa yang saya telah temukan melalui artikel di blog Ngomong Bebas.


Pada intinya cyberpsychology mempelajari tentang interaksi antara manusia dengan peralatan teknologi informasi, atau interaksi antar manusia menggunakan teknologi informasi. Di dunia maya manusia bisa membebaskan dirinya dari tekanan yang mereka terima di dunia nyata. Karena mereka bisa menyamarkan identitas diri mereka yang sebenarnya.


Sehingga manusia bisa lebih terbuka dalam mengungkapkan segala sesuatu tentang dirinya. Mereka juga bisa terlibat dalam berbagai aktivitas, yang mungkin di dunia nyata tidak dapat mereka ikuti, karena dianggap tabu dalam tatanan masyarakat dimana mereka berada.


Di dunia maya manusia bisa menggunakan identitas samaran dan bersembunyi di balik identitas itu. sehingga ketika mereka melakukan sebuah tindakan di dunia maya, mereka bisa menyanggah bahwa yang melakukan tindakan itu bukanlah diri mereka.


Di dunia maya manusia juga bisa merasa tidak nampak/invisible. Mereka bisa merasa bahwa lokasi dimana mereka berada sebenarnya, tidak dapat dilacak atau di ketahui oleh pengguna lainnya. Penampilan fisik mereka yang sebenarnya pun bisa disamarkan. Disinilah pesan dalam bentuk teks sangat berperan, contohnya seperti tulisan-tulisan di twitter, saat kita chatting, tulisan di facebook.


Di dunia maya, orang lain juga sulit untuk mengetahui suasana yang ada di sekitar kita. Entah kita seorang presiden direktur sebuah perusahaan raksasa yang sedang duduk di kursi di kantornya yang mahal, atau kita hanya orang biasa yang online di rumah. Kesulitan orang lain untuk mengetahui jabatan, status sosial, ras kita ini lah yang justru memudahkan kita untuk berkomunikasi di dunia maya.


Walaupun misalnya untuk artis atau politisi yang ikutan online, seringkali situs web, blog, atau profil mereka di situs social media seringkali memiliki banyak pengikut dikarenakan ketenaran dan pengaruh mereka di dunia nyata, namun orang-orang yang tidak termasuk dalam golongan public figure di dunia nyata pun dapat menjadi selebritis baru dan punya pengaruh kuat di dunia maya.


Inilah mungkin yang menyebabkan beberapa presiden dan calon presiden memanfaatkan dunia maya untuk berdialog dengan masyrakatnya, menyampaikan kampanye nya. Karena di dunia maya mereka bisa mengatur ulang level status sosial mereka, sehingga kebanyakan rakyat tidak akan merasa canggung untuk berkomunikasi dengan mereka.



Interaksi dengan orang lain didunia maya melalui tulisan teks seringkali membuat kita berfantasi mengenai orang yg sedang berintekasi dengan kita melalui teks itu. Sehingga terjadilah percampuran pemikiran antara pemikiran kita sendiri dengan pemikiran oran lain yang sedang berinteraksi dengan kita. Percampuran pemikiran ini yang membangun gambaran tentang figure orang lain tersebut di dalam diri kita.


Setelah kita berinteraksi dengan orang lain itu dengan tidak hanya mengandalkan pesan teks, mungkin dengan saling bertukar foto, berbicara melalui telepon, atau mungkin pada akhirnya bertemu dengan orang itu. maka seringkali pada saat bertemu didunia nyata kita akan terkejut karena ternyata orang yang kita ajak berinteraksi di dunia maya itu tidak cocok dengan bayangan kita mengenai dirinya.



Referensi :

Essential Issues in Cyberpsychology 2
Disinhibition, Transference, and Personality Types in Cyberspace



Sumber : http://truecenterpoint.com/ce/essentials2.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan mengisikan komentar apa aja, bebas aja, disini tempatnya ngomong bebas